Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.798 per Dolar AS, Pasar Menanti Risalah FOMC dan Arah Suku Bunga BI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:20:01 WIB
Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat ke level Rp 17.798 per dolar AS, seiring koreksi indeks dolar dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

SUMATERA UTARA — Penguatan rupiah di pasar spot kemarin sejalan dengan koreksi indeks dolar AS di pasar global. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang menurun turut meredam permintaan terhadap aset safe haven berbasis dolar, sehingga memberikan ruang apresiasi bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara itu, berdasarkan data kurs tengah Jisdor, BI mencatat penguatan lebih dalam sebesar 0,26% ke level Rp 17.836 per dolar AS pada Jumat (14/8). Angka ini menjadi acuan transaksi hari sebelumnya dan menunjukkan tren stabilisasi yang dijaga otoritas moneter di tengah gejolak pasar keuangan global.

Dua Katalis Utama yang Menahan Laju Rupiah Pekan Ini

Pelaku pasar kini bersikap wait and see terhadap dua agenda besar yang akan menentukan arah pergerakan rupiah ke depan. Pertama, rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan rilis pekan ini. Investor ingin melihat sinyal lebih lanjut mengenai kebijakan suku bunga acuan AS pasca data inflasi terbaru.

Kedua, pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Keputusan suku bunga acuan BI akan menjadi sinyal kuat bagi stabilitas nilai tukar, terutama dalam menjaga selisih imbal hasil (interest rate differential) dengan AS agar aliran modal asing tetap bertahan di pasar domestik.

Pelemahan Dolar AS Jadi Penopang Utama di Awal Pekan

Indeks dolar AS yang melemah pada sesi perdagangan Senin menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah. Pelemahan ini terjadi seiring ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat, menyusul data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perlambatan.

Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat daya tarik aset berbasis dolar berkurang. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk melirik aset berisiko di negara berkembang, yang secara tidak langsung turut menopang nilai tukar rupiah.

Proyeksi Pergerakan Rupiah dan Level yang Perlu Dicermati

Penguatan rupiah kemarin dinilai masih bersifat terbatas. Tanpa katalis baru dari domestik, potensi apresiasi lanjutan akan sangat bergantung pada nada yang disampaikan dalam risalah FOMC serta sikap BI dalam menjaga stabilitas kurs.

Sepanjang pekan ini, pergerakan nilai tukar diprediksi akan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Jika risalah FOMC menunjukkan sikap hawkish, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali muncul. Sebaliknya, nada dovish dapat mendorong penguatan lebih lanjut pada mata uang Garuda.

Investasi mengandung risiko.

Tags

Terkini