LABUAN BAJO — Di tengah keterbatasan fasilitas tenda pengungsian, Polres Manggarai Barat memastikan pelayanan kesehatan tetap menjangkau warga rentan. Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, mendatangkan terapis pengobatan alternatif pribadinya, Haji Zaeb, untuk mengobati dua pasien stroke di pemukiman Translok Blok D, Desa Persiapan Golo Tanggar, Kecamatan Komodo, Senin (24/8/2026) siang.
Aksi tanggap ini berawal saat rombongan Polres Manggarai Barat meninjau kediaman Bernadus Jaman (63) dan Marta Reni (52). Rumah tembok keluarga tersebut rusak berat pada bagian belakang dan samping, memaksa lima anggota keluarga mengungsi di tenda mandiri pekarangan rumah. Kondisi Bernadus yang tengah berjuang melawan stroke ringan menjadi perhatian khusus petugas.
Dua Pasien Stroke Terlantar di Tenda Pengungsian
Lima menit berselang, rombongan bergeser ke tenda terpal hijau milik Rofina Fatimah (53). Ibu rumah tangga yang menderita stroke selama hampir tujuh tahun ini terpaksa tinggal di tenda karena dinding rumahnya retak parah dan rawan ambruk.
Dengan mobilitas yang hanya bergantung pada sebatang tongkat, Rofina mengaku belum tersentuh pemeriksaan medis selama lima hari mengungsi. Kondisi ini menunjukkan celah pelayanan kesehatan yang belum menjangkau penyintas gempa di lokasi terpencil.
Terapis Dijemput Langsung ke Lokasi Pengungsian
AKBP Christian Kadang langsung menghubungi Haji Zaeb melalui sambungan telepon. Tak lama setelah Kapolres meninggalkan lokasi, ajudan Kapolres mengantar terapis tersebut langsung ke tenda pengungsian untuk memberikan penanganan medis awal kepada Bernadus dan Rofina.
"Kami ingin memastikan kehadiran Polri tidak sekadar membawa bantuan materiil, tetapi juga menyentuh kebutuhan kesehatan mendasar warga yang sedang menderita sakit di tenda darurat," ujar AKBP Christian pada Selasa (25/8/2026).
Langkah ini menjadi pola baru penanganan bencana yang mengedepankan aspek kemanusiaan di luar tugas pokok keamanan. Dengan pendekatan langsung ke titik pengungsian, Polres Manggarai Barat berupaya menutup kesenjangan akses kesehatan bagi kelompok rentan yang kerap terabaikan dalam situasi darurat.